Skip to main content

Selamat Menabur, Selamat Menuai

 

Pernahkah Anda mendengar mitologi Yunani tentang Icarus? Ia diberi sayap berlapis lilin oleh ayahnya untuk terbang membebaskan diri dari labirin. Namun, keangkuhan membuatnya mengabaikan peringatan dan terbang terlalu dekat dengan matahari. Sayap lilinnya meleleh, lalu ia jatuh terjerembab ke dasar lautan. Plot klasik semacam ini seolah sedang tayang ulang di panggung birokrasi kita, memancing senyum getir sekaligus perenungan mendalam. Aktor yang tengah menjadi sorotan utamanya? Dadan Hindayana.

​Mari kita putar sedikit rekam jejaknya. Dadan bukanlah tipikal politisi berwajah dingin yang sejak muda kenyang makan asam garam pemerintahan. Ia adalah seorang akademisi tulen, pakar ekologi serangga alias entomolog dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga pernah mengabdi sebagai Ketua Sekolah Tinggi Pertanian dan Kewirausahaan (STPK) Banau di Halmahera Utara. Logikanya, sehari-hari beliau sibuk meneliti perilaku serangga agar panen petani terselamatkan. Namun, entah plot twist macam apa yang diracik semesta, takdir membawanya duduk di kursi empuk sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pertama di republik ini.

​Anggaran BGN yang dipercayakan kepadanya tidak main-main. Untuk menopang Program Makan Bergizi Gratis (MBG), negara menyiapkan dana yang diproyeksikan meroket tajam hingga Rp 268 triliun pada tahun 2026. Di titik inilah, ujian sesungguhnya atas integritas dihadapkan pada kerasnya kenyataan birokrasi.

​Kita sering dibuai dengan ilusi pop-psikologi yang manis: "Orang baik yang masuk ke dalam sistem akan membersihkan sistem tersebut." Nyatanya, realitas kekuasaan kerap kali jauh lebih rumit dan menggoda. Ketika dihadapkan pada pesona otoritas dan finansial tanpa batas, fondasi integritas seseorang diuji pada level tertinggi. Kini, bersama dua mantan wakilnya—Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung—Dadan harus berhadapan dengan aparat penegak hukum atas dugaan tindak pidana korupsi.

​Pihak penyidik Kejaksaan Agung menduga adanya intervensi pada portal verifikasi, yang disinyalir kuat bertujuan untuk meloloskan yayasan-yayasan yang terafiliasi dengan para tersangka.Jika sangkaan penyidik ini terbukti di pengadilan, realitasnya sungguh memprihatinkan: insentif miliaran rupiah yang sejatinya adalah uang rakyat, diduga mengalir deras dari celah sistem setiap harinya. Lebih menggelitik lagi, di saat program ini semestinya berfokus pada asupan nutrisi anak sekolah, justru mencuat temuan dugaan mark-up anggaran masif untuk pengadaan 21.801 unit motor listrik, ribuan komputer tablet, hingga televisi layar lebar 75 inci yang dinilai publik tak ada korelasinya dengan pemenuhan gizi.

​Ada ironi yang terasa jenaka sekaligus getir di sini. Seorang pakar yang seumur hidupnya mendedikasikan ilmu untuk mengendalikan hama perusak, di puncak kariernya justru harus duduk di kursi pesakitan karena diduga terseret dalam pusaran dugaan menjadi "hama" bagi anggaran gizi anak bangsa.

​Tentu saja, kita wajib menghormati asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) hingga ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Namun terlepas dari itu, rentetan peristiwa ini adalah tamparan keras di wajah kita semua. Ini adalah sebuah refleksi tentang betapa rentannya nurani saat tergelincir oleh godaan pragmatisme instan. Godaan kekuasaan itu bekerja bak The One Ring dalam kisah Lord of the Rings; ia memabukkan, mengaburkan objektivitas, dan perlahan bisa mengubah siapapun yang memegangnya. Entah merasa jubah birokrasinya tak tersentuh atau sekadar terbuai oleh posisinya di program andalan pemerintah, realitas menunjukkan bahwa publik selalu punya mata, dan negara punya mekanisme ketat untuk mengevaluasi.

​Hanya butuh waktu sekitar 15 bulan masa pemantauan hingga pertunjukan tersebut berganti babak. Pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo mengambil langkah proaktif dengan mencopotnya dari jabatan Kepala BGN. Keesokan sorenya, sang akademisi yang dulu mungkin begitu dihormati di mimbar kampus itu, harus berjalan menunduk keluar dari Gedung Bundar Kejaksaan Agung dengan balutan rompi pink nan ikonik, lalu diantar menuju Rutan Salemba.

​Kisah perjalanan karier di BGN ini menjadi monumen pengingat yang sangat pahit. Kehidupan ini pada akhirnya hanyalah soal gema. Apa yang kita teriakkan ke tebing, itulah yang akan memantul kembali kepada kita. Selamat menabur, selamat menuai. Pilihan pragmatis yang mungkin awalnya dikira mendatangkan keuntungan, pada akhirnya sering kali meminta bayaran dengan harga yang tak bisa ditebus oleh harta duniawi sebesar apapun: martabat dan nama baik.

​"Kekuasaan tak pernah benar-benar mengubah karakter seseorang, ia hanya menelanjanginya; jika engkau menabur ketamakan di ruang gelap, bersiaplah menuai kejatuhan di bawah benderang cahaya."


Comments

Popular posts from this blog

Matematika Krisis: Daya beli yang diam-diam mati lemas.

Kita selalu diajarkan bahwa kestabilan harga adalah tanda kemakmuran. Ketika harga pangan turun, masyarakat seharusnya bersorak. Namun, bulan lalu, sebuah anomali terjadi. Laporan bahwa inflasi melandai di angka 3,08 persen pada Juli 2026 tidak disambut dengan euforia. Sebaliknya, jalanan terasa lebih sunyi, dan dompet terasa lebih kosong. Ini adalah paradoks yang mematikan: harga-harga turun bukan karena pasokan melimpah, melainkan karena daya beli masyarakat sedang diam-diam mati lemas. Kita sedang menyaksikan apa yang terjadi ketika sebuah mesin kehilangan olinya, bukan kehilangan gasnya. Saat sebuah negara mencatat defisit neraca dagang untuk pertama kalinya dalam enam tahun bertepatan dengan jatuhnya aktivitas manufaktur ke zona kontraksi, itu bukan sekadar fluktuasi kuartalan. Itu adalah bunyi retakan struktural. Ekonomi kita tidak sedang beristirahat; ia sedang mengalami altrofi (penyusutan/kemunduran). Sistem ini tidak dirancang untuk menyelamatkan mereka yang berada di tengah....

How does one perform a "cortico-thalamic pause"?

The idea of a "cortico-thalamic pause" springs from General Semantics and was popularized in the Null-A science fiction books by A.E. von Vogt. It has also been called a Semantic Pause or a Cognitive Pause. Thalamus/Thalamic is here used as a shorthand for the lower brain functions, associated with feelings, sensing, pain, pleasure, instincts, bodily functions, etc. Massive sub-conscious parallel processing goes on there and responses are often immediate. Neo-Cortex/Cortical is the shorthand for the higher, more recently developed, brain functions, associated with conscious thinking, reasoning, language use, deliberate decision making, etc. It can do abstract thinking, but can't focus on more than a couple of things at the same time. We easily get in trouble when we mix the two. Our ability to abstract is rather new and apparently a bit faulty. The cortex might construct a "meaning" for some lower level sensations which gives rise to faulty ...