Skip to main content

“Cerita Yang Hilang”

“Cerita Yang Hilang”

Seharusnya begitu mudah untuk berbahagia. Karena kita semua adalah Kebahagiaan itu sendiri. Itulah mengapa kita lebih tertarik pada cerita-cerita dramatis, kisah tentang Kemalangan yang berjuang untuk Keberhasilan, Penindasan yang berontak demi Kemerdekaan, Keterpisahan yang berlari menuju Penyatuan dan begitulah seterusnya. Hanya dengan paradoks itulah maka kita baru bisa merasakan hidup (baca: belajar hidup). Kita mencari Cinta, mencari Bahagia, mencari Kebenaran, mencari Tuhan, bahkan kita sibuk pula mencari-cari apa yang sebenarnya musti kita cari, dan nyatanya kita tetap hidup, terlepas dari apakah kita pada akhirnya akan menemukan atau tidak apa yang tengah dicari. Kita harus turun ke dunia ini sebagai mahluk yang berjibaku mencari Kebenaran. Semua terjadi karena kita ingin kembali menjadi Diri sendiri. Dan pola pikir sebagai korban dari kehidupan pun menjadi lebih populer ketimbang paradigma bahwa kita bertanggung-jawab atas apa-apa yang kita pikirkan-katakan-perbuat.



Kehidupan adalah aliran yang berjalan dari satu ranah menuju ke ranah lainnya, dari satu hikmah ke dalam hikmah lainnya. Dan Kehidupan memerlukan kondisi lain agar bisa senantiasa mengalir seperti air dari ketinggian. Menariknya, segala kisah Kejatuhan Manusia adalah semata-mata konspirasi jagad raya agar Kehidupan bisa tercipta. Awalnya adalah Kebahagiaan, maka agar ada proses yang mengalir terciptalah kondisi Kesedihan. Pada mulanya adalah Kesatuan, dan lahirlah Keterpisahan agar ada pencarian kembali ke sumber asal-muasalNya. Begitu pula dengan Cahaya, baru akan berguna di dalam Kegelapan. Kita pun sibuk meminta Keajaiban, agar kita terbimbing mengingat kembali bahwa kita lah Keajaiban itu sendiri. Kisah Pencarian, Perjalanan, Pertentangan, Kehilangan dan Kekhilafan merupakan dampak dari adanya Kehidupan yang membutuhkan ‘gerak’ sebagai wadah dariNya.

Akibat dari ingin hidup, maka kita harus merasakan mati. Dan karena membutuhkan jasmani yang terbatas maka kita akan kehilangan ingatan akan ketidakterbatasan kita pada sat melalui persalinan dari perut Sang Ibu. Demikianlah ‘Kehidupan’ dimulai dan berulang. Namun sedikit perlu disayangkan adalah ketika kita bertekad untuk bisa menikmati hidup maka kita akan berhadapan dengan segenap tantangan dan pelajaran-pelajaran dari kurikulum Sang Maha Hidup. Hal ini tak terelakkan, sebab untuk bisa menikmati Kehidupan, maka kita perlu melampauinya dalam Keterbatasan kita yang memiliki tubuh Manusia. Sebagai konsekuensi logisnya, kita perlu derajat Kecerdasan tertentu dalam memaknai hikmah peristiwa agar kemampuan dan pemahaman akan nikmatnya proses aliran Kehidupan ini bisa kita cerap. Pada tingkat itu, tiada lagi musibah dan cobaan, yang tersisa hanyalah hikmah dan petualangan, yang tentunya tidak akan seru kalau lancar-lancar saja.

Ketahuilah bahwa para Suci yang telah pernah singgah-datang dan pergi silih berganti dari alam dunia kita ini tidak serta-merta hidup dengan tanpa tantangan. Justru semakin mereka mengerti akan arti kehidupan maka semakin jauh pula daya hidupnya dalam menciptakan drama-drama yang melalui itulah kita yang tersisa masih bisa mengambil pelajaranNya dan dimudahkan pula. Sejarah ada untuk dicari polanya. Bukan untuk diperdebatkan. Pola tersembunyi inilah yang senantiasa memberi warna pada Kehidupan itu sendiri, atau dengan kata lain, pola inilah yang pada waktunya nanti menjadi satu-satunya Wajah Sejati Sang Hidup, yang muncul kemanapun kita memandang.

Kita adalah Kebahagiaan, oleh karenanya kita merasa lebih hidup saat berusaha mencapai kembali Kebahagiaan itu. Kita adalah Keajaiban, oleh karenanya kita merasa begitu ingin mengalaminya. Kita semua adalah wujud Cinta dan terlahir darinya, meskipun tidak jarang pula yang terlahir akibat cinta sesaat, cinta buta dan cinta monyet maupun cinta buaya ;) Kita membenci Kekalahan karena kita sesungguhnya adalah para Pemenang. Kita merindukan Keadilan terutama pada saat kita mengalami yang sebaliknya. Kita lupa akan nikmatnya Sehat karena kita tanpa sadar menikmati bahwa Sehat itu adalah keadaan yang seharusnya dan terbuai karenanya. Kita ingin tenggelam dalam Kebersamaan karena disanalah kita sebenarnya berawal dan kita pun menuntut untuk kembali bersatu, yang pada gilirannya malah menyebabkan Perpecahan. Petualangan baru akan dimulai jika ada pengalaman baru yang ingin kita temukan. Dan penemuan harus diawali oleh pencarian, dimana pencarian hanya akan terlahir dari adanya rasa kehilangan. Demikianlah drama Kehidupan di panggung sandiwara semesta ini dimulai. Kita telah kehilangan namun kita tidak pernah benar-benar kehilangan. Semua hanya terlupakan pada saat kita melalui pintu Kelahiran, dan hanya dengan mengingatlah maka hati menjadi tenteram. Tinggal sekarang mencari cara bagaimana sebaik-baiknya mengingat seluruh Kehidupan dengan satu ingatan kepadaNya, baik dalam keadaan berdiri-duduk-maupun berbaring, sambil menanti datangnya Kematian dan Kebangkitan, yang akan membawa kita kembali kepada Kehidupan sebelum kehidupan.

Semoga kita semua akan mengingat kembali Cerita kita yang hanya terlupakan, bukan terhilangkan, dimana Kematian hanyalah Kelahiran yang tertunda…

“NeoSentra”
http://jhodyap.wordpress.com/2010/07/16/cerita-yang-hilang/

Comments

Popular posts from this blog

How does one perform a "cortico-thalamic pause"?

The idea of a "cortico-thalamic pause" springs from General Semantics and was popularized in the Null-A science fiction books by A.E. von Vogt. It has also been called a Semantic Pause or a Cognitive Pause. Thalamus/Thalamic is here used as a shorthand for the lower brain functions, associated with feelings, sensing, pain, pleasure, instincts, bodily functions, etc. Massive sub-conscious parallel processing goes on there and responses are often immediate. Neo-Cortex/Cortical is the shorthand for the higher, more recently developed, brain functions, associated with conscious thinking, reasoning, language use, deliberate decision making, etc. It can do abstract thinking, but can't focus on more than a couple of things at the same time. We easily get in trouble when we mix the two. Our ability to abstract is rather new and apparently a bit faulty. The cortex might construct a "meaning" for some lower level sensations which gives rise to faulty ...

Deceptive but Truthful: Is it Possible?

The Question is Raised This may sound like an oxymoron, however in light of the previous article, “Statement Analysis Put to the Test, a Case Study”, I felt this question should be addressed. With this statement – Deceptive but Truthful – I am raising the question; If a statement is found to have many indications of deception, does that mean that the event reported did not happen ? The answer is NO!