Skip to main content

Paradoks Kekuatan Manusia

Merasa Kuat

Manusia yang merasa dirinya kuat yakin mampu untuk menghadapi segala macam godaan. Tetapi begitu tergoda kenyataannya ia kerapkali ia langsung jatuh. Dan iapun merasakan kekecewaan yang mendalam. Apa sebenarnya yang salah di sini?

Ternyata kenyataannya, mungkin saja ia memang kuat menghadapi godaan dalam bidang tertentu. Atau setidak-tidaknya ia merasa demikian. Tetapi ada banyak macam godaan. Dan ternyata menghadapi godaan dalam bidang lain ia sama sekali tidak memiliki kekuatan yang berarti untuk menghadapinya.



Mo Limo

Ada lima bidang kelemahan manusia. Mo limo [bhs. Jawa]. Maling, madat, minum, madon dan main. Kekuatan seseorang menghadapi kelima jenis godaan ini berbeda-beda. Mungkin ia tidak pernah mabuk, kecanduan narkoba atau main perempuan. Tetapi ia sangat mudah tertarik bertaruh atau main judi. Untuk modal bermain ia tidak segan-segan untuk mencuri.

Atau ia tidak suka main judi atau menghisap ganja. Tetapi ia sangat gemar main perempuan [womanizing]. Untuk itu ia tidak segan korupsi atau maling untuk membiayai kebiasaan buruknya itu.

Ada pula yang tidak suka minum, madat, madon maupun mabuk-mabukan. Tetapi ia mengidap semacam kleptomani yang parah. Kesempatan sekecil apapun akan dimanfaatkannya untuk mencuri. Prinsipnya: Setiap kali pulang rumah ia harus membawa sesuatu yang tangible, bagaimanapun caranya.

Maka ia bisa saja menilep kertas dari kantor. Mencuri sendok garpu dari restoran. Memasukkan handuk aau asbak hotel ke dalam kopor. Mengantongi pisau bistik dari pesawat terbang. Memetik bunga dari halaman kawan. Mencuri mangga dari kebun kampung sebelah. Mencuri ide orang lain untuk skripsi sendiri.

Ia merasa kecewa atas dirinya karena bisa saja kesalahan yang sama berulang kali. Makin lama semakin parah dan berubah menjadi semacam obsesi. Ia jatuh dan jatuh lagi. Persis seperti lalat terperangkap dalam sarang laba-laba [cobweb theorem]. Semakin ia menggeliat dan memberontak, semakin erat ia akan terikat.

Paradigm Perubahan

Bila paradigm berpikir tidak berubah, maka realitas yang menjadi output perilaku seseorang tidak mungkin berubah juga.

Apa yang salah di sini? Masalahnya ialah bila seseorang merasa dirinya kuat ,lalu sebenarnya yang merasa kuat itu ego dia yang satu mana?

Ego-pikiran ataukah ego-perasaan? Ia pikir ia kuat; ia merasa dirinya kuat. Apakah benar demikian? Apakah ia memang sekuat seperti apa yang ia pikir dan rasakan? Ternyata tidak selamanya demikian.

Ego-fisik ternyata tidak selalu sekuat kedua ego tadi. Tidak sekuat ego-pikiran dan ego-perasaan. Ternyata ia mudah sekali jatuh ego-fisiknya [baca: ego-nafsunya]. Begitu nafsunya terangsang, maka logikanya tidak jalan lagi. Macet…cet…cet… Artinya ego-pikirannya menjadi lumpuh total. Juga ego-perasaannya tidak berfungsi lagi. Ia menjadi seperti orang yang mati rasa saja.

Kejatuhan Manusia

Manusia jatuh oleh nafsu bukan pertama-tama oleh logika. Logikanya boleh merancang segala macam rekayasa pengendalian dan penguasaan diri. Tetapi begitu nafsu menguasai tubuhnya maka otaknya menjadi letoy. Seta merta menyerah tanpa perlawanan sedikitpun. Manusia juga jatuh oleh perasaan

Korban Kekerasan

Secara logika wanita yang disiksa oleh suaminya mempunyai seratus alasan untuk minta cerai. Tetapi ternyata tidak. Ia mempunyai harapan palsu terhadap penyesalan suaminya. Perasaannya menjadi kacau. Ia merasa masih ada harapan suaminya suatu saat akan berubah. Asalkan ia sabar saja menderita sejenak.

Setiap kali setelah melakukan KDRT suaminya menghiba-hiba minta maaf atau minta ampun. Tidak jarang dengan berlutut dan mengeluarkan air mata buaya. Juga disertai dengan hadiah kompensasi ini atau itu. Berjanji tidak akan mengulangi kekhilafannya. Tetapi ternyata begitu suaminya dikuasai ego fisiknya kembali maka KDRT pun terulang kembali. Persis seperti film yang ditayang ulang di bioskop.

Secara perasaan istri itu masih menyimpan memori cinta pertama terhadap suaminya tersebut. Dan ia enggan untuk berpisah dengan sweet memory tersebut walaupun dalam realitas kenyatannya bertolak belakang. Secara logika baginya lebih baik mengalami perlakuan yang buruk daripada sama sekali kehilangan kepastian hidup bila terpisah dengan suaminya.

Bruce Lee

Bruce Lee mati pada saat fisiknya terlatih secara maksimum. Ia telah mengembangkan otot, fisik, dan kecepatan pukulannya sedemikian rupa sehingga tidak ada musuh yang tidak dapat dikalahkannya. Ternyata kondisi over-exercise tersebut menyebabkan sakit kepala yang hampir tak tertahankan.

Maka ia akhirnya kedapatan mati pada tanggal 2 Juli 1973 di apartemen sejawatnya, aktris Betty Ting Pei setelah menenggak Equagesic semacam obat analgesika yang sangat keras. Ia mati karena alergi terhadap zat aktif obat tersebut yang telah mengakibatkan lesi pada otaknya.

Petrus

Petrus juga merasa hebat dan overconfidence. Pada saat Tuannya mengatakan bahwa Mesias harus menderita dan mati, ia sesumbar akan membela Tuannya sampai titik darah yang pernghabisan. Ia tidak akan membiarkan petaka seperti itu terjadi pada Tuannya. Ia merasa dirinya sangat hebat dan kuat. Baik secara fisik maupun secara mental.

Namun kenyataannya seperti langit dengan bumi. Begitu ditantang untuk mengakui dirinya sebagai salah seorang murid daripada Tuannya ia menyangkal beberapa kali. Bahkan pakai sumpah segala. Sebelum ayam berkokok ia telah beberapa kali dengan cool blooded menyangkal Tuannya. Begitu menghadapi kenyataan akan kemungkinan dirinya ditangkap seperti tuannya, maka ia langsung jatuh ke dalam pengkhianatan dan ketidaksetiaan. Yang merasa dirinya kuat ternyata begitu mudah jatuh akibat kelemahannya sendiri.

Adam dan Hawa

Pada saat Adam tunduk pada kehendak Hawa – dan bukan lagi tunduk kepada kehendak Allah, maka ia jatuh tanpa perlawanan sama sekali ke dalam dosa. Ia makan “buah pengetahuan buruk dan baik” dengan tergesa-gesa tanpa berkedip. Akibatnya, iapun keselek dan meninggalkan tanda stigmata dosa berupa jakun pada setiap pria yang mengambil bagian dalam garis kemanusiaan yang dirintisnya.

Masih mendingan manusia menganggap dirinya lemah dan rawan godaan. Untuk itu ia memerlukan nilai kerendahan hati. Juga perlu memelihara nilai kewaspadaan. Bagi yang kerap jatuh terduduk dan terpuruk hanya ada satu jalan keluar yaitu ke arah atas. Untuk mulai bangkit dan berusaha berdiri tegak kembali.

Merasa Lemah

Pada saat manusia merasa lemah ia sadar membutuhkan bantuan liyan. Pada saat ia merasa dirinya kuat dan hebat ia cenderung menyingkirkan semua liyan. Ia tidak membutuhkan bantuan apapun dari mereka itu.

Keguyuban

Dalam kemiskinannya masyarakat miskin memiliki rasa saling membutuhkan yang kuat, solider dan akrab. Dengan meningkatnya kemakmuran pribadinya, manusia merasa semakin kuat dan independen. Bahkan kadang-kadang ia merasa tidak memerlukan bantuan dari Allahnya sekalipun. Ia menjadi manusia yang angkuh dan tetapi lemah. Sepertinya tampak kokoh dan perkasa di luar tetapi ternyata sesungguhnya ia sangat rentan dan rapuh di sebelah dalamnya.

Kebutuhan Berdoa

Sebaliknya manusia yang merasa dirinya lemah [sèkèng; bhs. Jawa] saat akan menghadapi godaan ia sadar bahwa dirinya membutuhkan bantuan ilahi. Ia membutuhkan vitamin dan supplemen spiritual. Karena merasa lemah ia tidak malu dan segan terus memohon kepada Allahnya untuk diberi kekuatan dan kharismata. Karena terus memohon maka pada gilirannya kepadanya akan diberikan rahmat dan kekuatan untuk menghadapi godaan.

Paradox

Itulah paradox kekuatan dan kelemahan manusia: Pada saat manusia merasa kuat ia berada pada titik terlemah. Pada saat ia merasa lemah ia semakin diperkuat dan diperkuat sehingga akhirnya benar-benar menjadi kuat. [JS]

http://juswan.wordpress.com/2008/12/18/paradoks-kekuatan-manusia

Comments

Popular posts from this blog

How does one perform a "cortico-thalamic pause"?

The idea of a "cortico-thalamic pause" springs from General Semantics and was popularized in the Null-A science fiction books by A.E. von Vogt. It has also been called a Semantic Pause or a Cognitive Pause. Thalamus/Thalamic is here used as a shorthand for the lower brain functions, associated with feelings, sensing, pain, pleasure, instincts, bodily functions, etc. Massive sub-conscious parallel processing goes on there and responses are often immediate. Neo-Cortex/Cortical is the shorthand for the higher, more recently developed, brain functions, associated with conscious thinking, reasoning, language use, deliberate decision making, etc. It can do abstract thinking, but can't focus on more than a couple of things at the same time. We easily get in trouble when we mix the two. Our ability to abstract is rather new and apparently a bit faulty. The cortex might construct a "meaning" for some lower level sensations which gives rise to faulty ...

Deceptive but Truthful: Is it Possible?

The Question is Raised This may sound like an oxymoron, however in light of the previous article, “Statement Analysis Put to the Test, a Case Study”, I felt this question should be addressed. With this statement – Deceptive but Truthful – I am raising the question; If a statement is found to have many indications of deception, does that mean that the event reported did not happen ? The answer is NO!