Skip to main content

Catatan kematian

sudah sminggu Gus Dur meninggal.. cukup banyak catatan menarik yg diberikan orang-orang kepada sejarah hidupnya..
coretan tulisan ini bukan bermaksud menambahi catatan ttg kehidupan Gus Dur yg jelas2 banyak memberikan pencerahan kepada bangsa ini.

cuma habis sempat terdiam ketika habis membaca perkataan Franz Magnis Suseno tentang kematian di kompas hari ini .. (dia berbicara masih dalam konteks Gus Dur yg sudah tiada)..

dia mengingatkan kita bahwa bukan setelah kelahiran kehidupan menorehkan tinta-remark atas sejarah hidup seseorang. tp setelah kematianlah torehan itu sungguh berarti..

so..

bersiaplah untuk mati dan biarkan sejarah mencatat torehan apa yg sudah kita tuliskan dalam kehidupan.


(akhirnya setelah lama males nulis, mulai punya semangat lagi...thanks utk "kematian")

Comments

Popular posts from this blog

Matematika Krisis: Daya beli yang diam-diam mati lemas.

Kita selalu diajarkan bahwa kestabilan harga adalah tanda kemakmuran. Ketika harga pangan turun, masyarakat seharusnya bersorak. Namun, bulan lalu, sebuah anomali terjadi. Laporan bahwa inflasi melandai di angka 3,08 persen pada Juli 2026 tidak disambut dengan euforia. Sebaliknya, jalanan terasa lebih sunyi, dan dompet terasa lebih kosong. Ini adalah paradoks yang mematikan: harga-harga turun bukan karena pasokan melimpah, melainkan karena daya beli masyarakat sedang diam-diam mati lemas. Kita sedang menyaksikan apa yang terjadi ketika sebuah mesin kehilangan olinya, bukan kehilangan gasnya. Saat sebuah negara mencatat defisit neraca dagang untuk pertama kalinya dalam enam tahun bertepatan dengan jatuhnya aktivitas manufaktur ke zona kontraksi, itu bukan sekadar fluktuasi kuartalan. Itu adalah bunyi retakan struktural. Ekonomi kita tidak sedang beristirahat; ia sedang mengalami altrofi (penyusutan/kemunduran). Sistem ini tidak dirancang untuk menyelamatkan mereka yang berada di tengah....

How does one perform a "cortico-thalamic pause"?

The idea of a "cortico-thalamic pause" springs from General Semantics and was popularized in the Null-A science fiction books by A.E. von Vogt. It has also been called a Semantic Pause or a Cognitive Pause. Thalamus/Thalamic is here used as a shorthand for the lower brain functions, associated with feelings, sensing, pain, pleasure, instincts, bodily functions, etc. Massive sub-conscious parallel processing goes on there and responses are often immediate. Neo-Cortex/Cortical is the shorthand for the higher, more recently developed, brain functions, associated with conscious thinking, reasoning, language use, deliberate decision making, etc. It can do abstract thinking, but can't focus on more than a couple of things at the same time. We easily get in trouble when we mix the two. Our ability to abstract is rather new and apparently a bit faulty. The cortex might construct a "meaning" for some lower level sensations which gives rise to faulty ...

Selamat Menabur, Selamat Menuai

  Pernahkah Anda mendengar mitologi Yunani tentang Icarus? Ia diberi sayap berlapis lilin oleh ayahnya untuk terbang membebaskan diri dari labirin. Namun, keangkuhan membuatnya mengabaikan peringatan dan terbang terlalu dekat dengan matahari. Sayap lilinnya meleleh, lalu ia jatuh terjerembab ke dasar lautan. Plot klasik semacam ini seolah sedang tayang ulang di panggung birokrasi kita, memancing senyum getir sekaligus perenungan mendalam. Aktor yang tengah menjadi sorotan utamanya? Dadan Hindayana. ​Mari kita putar sedikit rekam jejaknya. Dadan bukanlah tipikal politisi berwajah dingin yang sejak muda kenyang makan asam garam pemerintahan. Ia adalah seorang akademisi tulen, pakar ekologi serangga alias entomolog dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga pernah mengabdi sebagai Ketua Sekolah Tinggi Pertanian dan Kewirausahaan (STPK) Banau di Halmahera Utara. Logikanya, sehari-hari beliau sibuk meneliti perilaku serangga agar panen petani terselamatkan. Namun, entah plot twist m...