Skip to main content

Teks, Estetika, dan Selangkangan

Teks dan estetika. Dua mantra yang memandu para juri membaca film nominasi untuk diberi piala. Salah satu juri berbagi cerita dengan salah satu pemenang di sebuah kedai kopi di Kemang.

Teks: lo mau ngomong apa?

Estetika: lo ngomongnya gimana?

Teks tanpa estetika jadinya khotbah. Estetika tanpa teks jadinya sirkus, bukan film.



Dia menjelaskan kenapa film kami yang dipilih menjadi pemenang skrip terbaik. Padahal waktu penjurian terpaksa juri-juri disuruh nonton di rumah masing-masing karena audio film kami bikin budeg telinga. Padahal film kami hanya rekaman orang ngobrol sambil pindah-pindah setting. Padahal film kami sebenarnya lebih menang di cerita, bukan di skenario.

Malam minggu gue berubah jadi kursus kilat semiotika film A to Z dalam 2 jam. Kuliah warung kopi bagaimana membuat film yang baik ini ternyata bisa dirangkum dalam 2 kata:

kegelisahan.

kejujuran.

Dua hal yang membuat Sumanjaya gatal melihat OKB.

Membuat Teguh Karya gerah menjadi Cina.

Membuat Djenar mengeksplor selangkangan.

Membuat Nia Dinata diusik poligami.

gelisah dan jujur.

It sounds simple. Tapi kenapa begitu banyak bakat yang mencoba dan gagal?

Karena jujur itu menyakitkan banyak orang. Tidak ada yang suka digugat. Digugat itu menyakitkan. Dan menggugat itu juga membuka celah untuk disakiti.

Tapi melegakan.

Contohnya salah seorang cerpenis yang baru datang bergabung. Karyanya gelap, menyiarkan luka lama ke seluruh dunia. Tapi karyanya mengobati lukanya. Sekarang lukanya sudah kering, membuat dia menjadi pribadi jujur apa adanya yang bisa bilang "gue cerpenis, penulis cerita penis" di depan irjen film dan jajarannya tanpa malu-malu. Si Irjen yang jadi malu-malu.

"Gue orgasme pertama kali tuh ama cewe," katanya setelah pria-pria di dekade usia 12-14 tidak mampu memuaskannya.

Gue membayangkan gue di umur 14. Ciuman aja belum. Apalagi orgasme.

Cerpenis hidup tanpa penis selama satu setengah tahun. Akhirnya capek dan kembali ke penis setelah sadar kalau lesbi di Indonesia itu terlalu posesif.

"Ntar kabari ya lo doyannya laki atau perempuan," katanya nakal saat gue pamit pulang. Udah jam 2 malam, tampaknya obrolan belum menujukkan tanda-tanda berakhir. Anak cupu ini udah rindu kasur.

"Gue yang bayarin," katanya sambil berusaha menyelipkan lima puluh ribuan gue kembali ke kantong. Gagal menemukan kantong celana, diselipkanlah ke belahan dada.

Teks, Estetika, dan Selangkangan: membuat film begitu menggairahkan.

sumber:
http://resignclub.blogspot.com/2010/08/teks-estetika-dan-selangkangan.html

Comments

Popular posts from this blog

How does one perform a "cortico-thalamic pause"?

The idea of a "cortico-thalamic pause" springs from General Semantics and was popularized in the Null-A science fiction books by A.E. von Vogt. It has also been called a Semantic Pause or a Cognitive Pause. Thalamus/Thalamic is here used as a shorthand for the lower brain functions, associated with feelings, sensing, pain, pleasure, instincts, bodily functions, etc. Massive sub-conscious parallel processing goes on there and responses are often immediate. Neo-Cortex/Cortical is the shorthand for the higher, more recently developed, brain functions, associated with conscious thinking, reasoning, language use, deliberate decision making, etc. It can do abstract thinking, but can't focus on more than a couple of things at the same time. We easily get in trouble when we mix the two. Our ability to abstract is rather new and apparently a bit faulty. The cortex might construct a "meaning" for some lower level sensations which gives rise to faulty ...

Selamat Menabur, Selamat Menuai

  Pernahkah Anda mendengar mitologi Yunani tentang Icarus? Ia diberi sayap berlapis lilin oleh ayahnya untuk terbang membebaskan diri dari labirin. Namun, keangkuhan membuatnya mengabaikan peringatan dan terbang terlalu dekat dengan matahari. Sayap lilinnya meleleh, lalu ia jatuh terjerembab ke dasar lautan. Plot klasik semacam ini seolah sedang tayang ulang di panggung birokrasi kita, memancing senyum getir sekaligus perenungan mendalam. Aktor yang tengah menjadi sorotan utamanya? Dadan Hindayana. ​Mari kita putar sedikit rekam jejaknya. Dadan bukanlah tipikal politisi berwajah dingin yang sejak muda kenyang makan asam garam pemerintahan. Ia adalah seorang akademisi tulen, pakar ekologi serangga alias entomolog dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga pernah mengabdi sebagai Ketua Sekolah Tinggi Pertanian dan Kewirausahaan (STPK) Banau di Halmahera Utara. Logikanya, sehari-hari beliau sibuk meneliti perilaku serangga agar panen petani terselamatkan. Namun, entah plot twist m...
Competence is More Than Knowing 'How'—It's Understanding 'Why' and 'When' in the Age of AI ​We have all seen it. The chef trying so hard, using the wrong tool, the wrong technique, and getting more and more frustrated with each attempt. He's trying to do a basic part of his job—igniting a wok—but failing miserably. ​This isn't just a funny video from a kitchen. It's a powerful metaphor for competence in the modern workplace. ​In today's landscape, saturated with emerging technologies and AI, we are seeing a shift in the definition of "competence." It's no longer enough to just know how to perform a task. If all you offer is basic, rote competence, your skill will soon be a commodity. AI will do it faster, cheaper, and often better. ​The true definition of competence has shifted from "knowing the steps" to "understanding the fundamental principles, the nuance, and the 'why' behind the steps." ​Look at ...