Pada tahun 1628, kapal perang kebanggaan Swedia, Vasa, tenggelam hanya 20 menit setelah berlayar perdana. Sang Raja memaksa tambahan ratusan patung berat dan dua geladak meriam, merusak rancangan awal. Para pembuat kapal bekerja siang-malam menciptakan kesibukan masif. Sayangnya, mereka mengabaikan keseimbangan. Kapal itu kelebihan beban.
Tragedi ini berpesan jelas: "Just because you are doing a lot more doesn't mean you are getting a lot done." Kita terlalu sering merayakan volume keringat, bukan produktivitas. Marathon meeting, respon WA tanpa henti, dan revisi sampai larut malam, dianggap sebagai kerja keras. Padahal, itu sekadar aktivitas yang menguras tenaga.
Ilusi ini merusak life view kita. Kita melihat tim berlarian. Kita melihat banyak dokumen yang perlu dibaca. Namun, alhasil, jarang yang membawa hasil optimal—baik itu keuntungan maupun target efisiensi. Ini seperti pemain catur yang memindahkan bidak ke kiri-kanan sekadar agar terlihat berpikir, tanpa membangun ancaman di tengah papan. Bergerak tanpa penguasaan posisi adalah bunuh diri perlahan.
Mengapa jebakan ini berulang? Karena bergerak itu nyaman. Duduk diam, memikirkan masalah sampai ke intinya, dan mengambil keputusan berisiko tinggi adalah hal menakutkan. Jauh lebih aman bagi ego untuk sibuk mengerjakan tugas-tugas receh. Layaknya pembuat kapal Vasa, kita sibuk membangun geladak meriam tambahan untuk menutupi lambung yang sebenarnya bocor.
Produktivitas sejati adalah seni membuang hal yang tidak perlu. Jika 80% pergerakan kita hari ini tidak memberikan dorongan nyata terhadap tujuan esok hari, kita hanya membangun monumen kesibukan yang akan tenggelam. Kita tidak butuh sekadar bergerak. Kita butuh melangkah maju.
Pemimpin yang tajam tahu kapan harus menekan rem. Menghentikan mesin sejenak untuk melihat peta medan perang jauh lebih mematikan daripada menembak peluru ke ruang kosong.
Coba hentikan langkah kita sejenak hari ini: apakah kita benar-benar sedang berjalan maju tuk sampai tujuan, atau kita hanya berputar-putar menciptakan debu di halaman yang sama?
Ondo Untung
Pause, 010826

Comments